2 Cerita Fabel Bahasa Indonesia Terbaru

Posted on

Lebah dan Kupu-kupu


Dahulu, ada sebuah pulau yang banyak sekali dikunjungi wisatawan. Sebetulnya pulau itu sangat jauh dan terpencil. Namun, apa gerangan yang membuat banyak sekali wisatawan ingin mengunjungi pulau tersebut? Ternyata pemandangan di pulau itu sangat indah, banyak bunga beraneka warna macam dan ragamnya.
Selain itu, banyak sekali lebah yang pada akhirnya diternakan oleh para penghuni pulau itu. Wajarlah bila pulau itu terkenal pula dengan madunya yang beraneka rasa, sesuai dengan bunga yang dihisap oleh lebah yang bersangkutan.
Dan yang lebih menakjubkan lagi, disitu terdapat ribuan kupu-kupu yang sangat beraneka ragam jenisnya. Mulai dari kupu-kupu yang sangat kwcil sampai yang sangat besar.
Begitu pula dengan corak sayapnya yang begitu indah dan menakjubkan. Di pulau inilah kita akan terharu dan terpesona oleh kebesaran tuhan.
Banyak pengunjung maupun perajin memanfaatkan keindahan kupu-kupu itu untuk di buat cindra mata. Mengingat harga cindra mata itu terbilang mahal, maka setiap hari banyak orang yang menangkap atau menjala kupu-kupu tersebut.
Karena penangkapan kupu-kupu itu telah berlangsung bertahun-tahun, maka jumlahnyapun semakin berkurang.
Ternyata, di antara keceriaan dan keindahan yang sangat mengagumkan, ada sebuah kesedihan yang mendalam. Di pagi yang cerah, disaat kebanyakan kupu-kupu dan binatang lain menghisap madu, ada seekor kupu-kupu besar dan sangat indah diam termenung, hinggap disebuah daun. Tak lama kemudian, datanglah seekor lebah menyapanya.
“Hei, Kupu-kupu! Kenapa kamu termenung sedih disitu?”
Lalu kupu-kupu menjawab, “Oh, Lebah engkau tahu keberadaan pulau ini sekarang? Banyak sekali pengunjung dan pengrajin yang sengaja menangkap teman-temanku untuk dijadikan cindra mata. Sedangkan kelompok lebah tidak ada yang berani mengganggu, apalagi menangkap. Bahkan lebah diternakkan sehingga jumlahnya justru semakin banyak. Sedangkan kelompok kupu-kupu mungkin suatu saat akan punah jika banyak orang yang menangkap kupu-kupu tanpa ada batasannya. Apalagi jika menggunakan jaring,” jelas kupu-kupu.
Dengan berurai air mata, kupu-kupu tersebut mengutarakan semua itu pada lebah.
Lebah merasa iba mendengar cerita kupu-kupu, maka ia pun meninggalkan Kupu-kupu kembali kesarangnya. Ia menceritakan kisah sedih ini kepada teman-temannya. Akhirnya mereka bersepakat menolong Kupu-kupu tersebut.
Jika mereka melihat pengunjung atau pengrajin yang hendak menangkap kupu-kupu, maka lebah-lebah pun akan berada disekelilingnya sehingga mereka tidak jadi menangkap kupu-kupu karena takut disengat lebah.
Benar juga, para pengunjung dan pengrajin kupu-kupu tidak berani menangkap kupu-kupu. Mereka menyadari perlunya menjaga keberadaan dan melestarikan kupu-kupu di pulau itu.
Para perajin, pedagang cindra mata, dan pengunjung mematuhi peraturan tersebut, bahwa mereka hanya diperbolehkan mengambil kupu-kupu yang sudah mati untuk dijadikan cindra mata ataupun sebagai bahan penelitian. Jumlah kupu-kupu yang mati ternyata cukup banyak, karena setelah bertelur, mereeka tidak bertahan hidup lebih lama lagi.
Setelah situasi tenang dan kehidupan berbagai binatang dan serangga di situ merasa aman, kupu-kupu pun mencari lebah yang telah menolongnya. Akhirnya bertemulah mareka. kupu-kupu sangat berterimakasih kepada lebah yang menyelamatkannya dari kepunahan.
Sampai sekarang, pulau itu dikenal dengan nama ”Pulau Kupu-kupu” yang selalu dipenuhi wisatawan dalam negeri maupun mancanegara.

Kancil dan Harimau


Harimau sedang asyik bercermin di sungai sambil membasuh mukanya. “Hmm, gagah juga aku ini, tubuhku kuat berotot dan warna lorengku sangat indah,” kata harimau dalam hati. Kesombongan harimau membuatnya suka memerintah dan berbuat semena-mena pada binatang lain yang lebih kecil dan lemah.
Si kancil akhirnya tidak tahan lagi. “Benar-benar keterlaluan si harimau !” kata Kancil menahan marah. “Dia mesti diberi pelajaran! Biar kapok! Sambil berpikir, ditengah jalan kancil bertemu dengan kelinci. Mereka berbincang-bincang tentang tingkah laku harimau dan mencoba mencari ide bagaimana cara membuat si harimau kapok.
Setelah lama terdiam, “Hmm, aku ada ide,” kata si kancil tiba-tiba. “Tapi kau harus menolongku,” lanjut si kancil. “Begini, kau bilang pada harimau kalau aku telah menghajarmu karena telah menggangguku, dan katakan juga pada si harimau bahwa aku akan menghajar siapa saja yang berani menggangguku, termasuk harimau, karena aku sedang menjalankan tugas penting,” kata kancil pada kelinci.
“Tugas penting apa, Cil?” tanya kelinci heran. ” Sudah, bilang saja begitu, kalau si harimau nanti mencariku, antarkan ia ke bawah pohon besar di ujung jalan itu. Aku akan menunggu Harimau disana.” “Tapi aku takut Cil, benar nih rencanamu akan berhasil?”, kata kelinci.
“Percayalah padaku, kalau gagal jangan sebut aku si kancil yang cerdik”. “Iya, iya. Aku percaya, tapi kamu jangan sombong, nanti malah kamu jadi lebih sombong dari si harimau lagi.”
Si kelincipun berjalan menemui harimau yang sedang bermalas-malasan. Si kelinci agak gugup menceritakan yang terjadi padanya. Setelah mendengar cerita kelinci, harimau menjadi geram mendengarnya.
“Apa ? Kancil mau menghajarku? Grr, berani sekali dia!!, kata harimau. Seperti yang diharapkan, harimau minta diantarkan ke tempat kancil berada. “Itu dia si Kancil!” kata Kelinci sambil menunjuk ke arah sebatang pohon besar di ujung jalan. “Kita hampir sampai, harimau. Aku takut, nanti jangan bilang si kancil kalau aku yang cerita padamu, nanti aku dihajar lagi,” kata kelinci. Si kelinci langsung berlari masuk dalam semak-semak.
“Hai kancil!!! Kudengar kau mau menghajarku ya?” Tanya harimau sambil marah. “Jangan bicara keras-keras, aku sedang mendapat tugas penting”.
“Tugas penting apa?”. Lalu Kancil menunjuk benda besar berbentuk bulat, yang tergantung pada dahan pohon di atasnya. “Aku harus menjaga bende wasiat itu.” Bende wasiat apa sih itu?”
Tanya harimau heran. “Bende adalah semacam gong yang berukuran kecil, tapi bende ini bukan sembarang bende, kalau dipukul suaranya merdu sekali, tidak bisa terlukis dengan kata-kata.”
Harimau jadi penasaran. “Aku boleh tidak memukulnya?, siapa tahu kepalaku yang lagi pusing ini akan hilang setelah mendengar suara merdu dari bende itu.”
“Jangan, jangan,” kata Kancil. Harimau terus membujuk si Kancil. Setelah agak lama berdebat, “Baiklah, tapi aku pergi dulu, jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa ya?”, kata si kancil.
Setelah Kancil pergi, Harimau segera memanjat pohon dan memukul bende itu. Tapi yang terjadi…. Ternyata bende itu adalah sarang lebah! Nguuuung…nguuuung…..nguuuung sekelompok lebah yang marah keluar dari sarangnya karena merasa diganggu.
Lebah-lebah itu mengejar dan menyengat si harimau. “Tolong! Tolong!” teriak harimau kesakitan sambil berlari. Ia terus berlari menuju ke sebuah sungai. Byuur! Harimau langsung melompat masuk ke dalam sungai. Ia akhirnya selamat dari serangan lebah.
“Grr, awas kau Kancil!” teriak Harimau menahan marah. “Aku dibohongi lagi. Tapi pusingku kok menjadi hilang ya?”. Walaupun tidak mendengar suara merdu bende wasiat, harimau tidak terlalu kecewa, sebab kepalanya tidak pusing lagi.

“Hahaha! Lihatlah Harimau yang gagah itu lari terbirit-birit disengat lebah,” kata kancil. “Binatang kecil dan lemah tidak selamanya kalah bukan?”. “Aku harap harimau bisa mengambil manfaat dari kejadian ini,” kata kelinci penuh harap.”