Contoh Cerpen Tentang Ibu : Ibu kedua

Posted on

Contoh Cerpen Tentang Ibu  

                                            
 Judul  : IBU KEDUA
 Karya : Sara Yunita

 

IBU KEDUA



    Dila dan anak-anak panti yang lain tengah bercengkrama di teras panti. Rata-rata anak panti asuhan pelita berumur 9-15 tahun. Kebanyakan memang masih anak-anak. Namun ada juga yang remaja tetapi hanya sebagian kecil saja. Termasuk salah satunya adalah Dila. Usianya kini sudah menginjak remaja. Sejak kecil Dila tak pernah bertemu dengan orangtua kandungnya. Yang ia impikan hanyalah bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Walaupun sudah ditinggal oleh orang tua kandungnya sejak dia masih bayi, namun Dila adalah anak yang paling ceria di panti asuhan pelita. Dila sangat akrab dengan tiga anak laki-laki yang berumur berkisar antara 10-15 tahun. Mereka adalah Chandra, Reza, dan Rafa. Mereka sangat suka sekali apabila berada di dekat Dila karena Dila selalu membuat mereka tertawa. Dila pun sudah menganggap mereka sebagai adik kandungnya sendiri. Dihalaman panti terdapat sebuah pohon mangga manalagi yang sangat enak. Seringkali mereka memetik mangga itu untuk dimakan bersama-sama. Pohon itu memang sengaja ditanam oleh Dila dan kawan-kawan dilahan yang kosong dan sekarang sudah tumbuh besar dan mulai berbuah berkat perawatan yang dilakukan oleh mereka. Pohon itu juga dijadikan sebagai tempat bersandar untuk Dila ketika ingin menyendiri.

   “wah! Kayaknya kita bakal panen besar nih.” Ujar Rafa seraya menengadah.
   “Reza, buruan panjat pohonnya terus ambil mangga yang udah masak.” Pinta Chandra yang sangat menyukai mangga.

   “panjat saja sendiri, kan kamu yang mau.” Bantah Reza sambil asyik membaca komik yang baru saja ia dapat dari Bu panti.

   “kok kamu gitu sih, Za. Nggak setia kawan.” Gerutu Chandra.

Reza terus saja dipaksa oleh Chandra yang sangat doyan sekali makan namun Reza tetap saja asyik dengan komik barunya. Ya! Walaupun Reza tak pernah merasakan bangku sekolah namun ia sudah bisa membaca karena sudah diajarkan oleh ibu panti. Selain itu Reza sudah tidak diragukan lagi kalau soal panjat memanjat. Itulah sebabnya teman-temannya selalu menyuruh Reza untuk memanjat pohon. Rafa sedari tadi hanya diam memperhatikan teman-temannya ribut. Tiba-tiba Dila yang habis dari dapur datang menghampiri mereka.

   “ada apaan sih ribut-ribut.?” Ujarnya.

   “ini, kak. Reza nggak mau ambil mangganya padahal kan Cuma dia yang bisa manjat.” Gerutu Chandra.

Dila berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepala. “Reza!!!.” Ujarnya kemudian seraya mengisyaratkannya untuk manjat.
   “iya, iya.” Sahut Reza lalu bangkit untuk memanjat pohon.
Dengan cekatan Reza mulai memanjat dan memetik buah mangga itu lalu satu per satu dilemparkannya kebawah. Dila pun menangkap buah yang dilemparkan oleh Reza. Setelah selesai, Reza pun menuruni pohon mangga. Buah mangga yang sudah terkumpul langsung disantap bersama-sama kecuali Reza yang masih asyik dengan komiknya.
   Di lain hari berikutnya, Dila tengah asyik menyendiri dibawah pohon mangga seraya sedang melukis sketsa wajah seseorang dengan menggunakan pensil dan selembar kertas gambar. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Lalu sosok laki-laki yang juga seusia Dila itu duduk disamping Dila.

   “Kamu lukis wajah siapa?” Tanya pemuda yang bernama Rivo itu.

Dia adalah salah satu sahabat Dila dipanti asuhan Pelita. Nasib Rivo tak jauh berbeda dengan Dila. Mereka sama-sama ditinggal orangtua sejak bayi. Bahkan mereka sendiri tak tahu mengapa orangtua mereka tega membuang mereka ke panti.
Dila berhenti melukis lalu menatap Rivo. “Dari kecil aku tak pernah tahu bagaimana sketsa wajah ibu kandungku. Aku harap yang kulukis ini adalah skesa wajahnya.” Ujar Dila.
Rivo terdiam. Ia sangat mengerti betul apa yang dirasakan sahabatnya itu karena ia sendiri pun tak pernah melihat sketsa wajah ibu kandungnya.

   “Pasti ibu kamu sama cantiknya kayak kamu.” Puji Rivo untuk menghibur Dila.

Dila pun tersipu sembari melanjutkan melukis. Rivo terus memperhatikan bagaimana cara Dila melukis. Ternyata disisi lain Dila pandai melukis juga. Lukisannya sangat cantik layaknya seorang pelukis yang tengah menggambar sketsa. Pikir Rivo.
Dila kembali menghentikan melukisnya. Ia seperti memikirkan sesuatu. “Riv, dua hari lagi kan hari ibu. Apa kita bisa ngerayain hari ibu kalau kita aja nggak punya ibu?” Tanya Dila kemudian.
Rivo mengernyit. Ia tak tahu bagaimana harus menjawab. Namun ia tak pernah kehabisan akal. Walaupun sifat Rivo yang selalu pendiam tak bisa ditebak, namun ia tak pernah suka melihat sahabat-sahabatnya sedih, termasuk Dila. Rivo selalu membuat para sahabatnya dipanti merasa bahagia dengan akal cerdiknya itu. Ia dijuluki si cerdik oleh teman-temannya karena ia selalu punya seribu akal.

   “pasti bisa kok. Kamu tinggal siapin kado special aja.” Ujar Rivo kemudian.

   “tapi gimana caranya?” Tanya Dila lagi.

   “Nanti juga kamu tahu.” Singkat Rivo seraya berlalu dari Dila.

Dila tak mengerti apa yang akan direncanakan Rivo nanti. Sifatnya yang sedikit tertutup kadang membuat Dila penaAmalian dengan sosok Rivo yang sebenarnya. Namun Dila percaya dan akan menuruti apa yang Rivo katakan tadi. Ia tahu setiap yang dilakukan Rivo selalu membuatnya bahagia. Sama halnya dengan Bu Hartati. Ia adalah pemilik sekaligus pengurus yang sudah mengelola panti asuhan Pelita dengan baik. Dia sangat menyayangi anak-anak asuhannya bahkan sudah dianggap dan diperlakukan seperti anak kandungnya sendiri. Ada pula pengurus panti yang lain yang dibayar oleh Bu Hartati. Namun sebagian besar anak panti lebih menyukai Bu Hartati. Wajar saja, karena ibu paruh baya ini sudah berumah tangga selama Sembilan tahun namun belum dikaruniai seorang anak. Suaminya pun turut mengurus panti. Semua kebutuhan jika tak ada yang menyumbang dipenuhi olehnya. Mereka adalah pasangan suami istri yang sangat harmonis. Yang mereka inginkan selalu adalah bisa mendapatkan berkah dari Tuhan dan dikaruniai buah hati. Bagi meeka anak adalah titipan dari Tuhan yang harus dirawat dan dijaga sampai anak tersebut menjadi anak yang berguna.
   Esoknya Dila memberanikan diri untuk menemui bu Hartati di ruangannya. Ia tengah sibuk mencatat kebutuhan yang harus dipenuhi untuk pantinya.

TOK! TOK! TOK!

Dila mengetuk pintu dengan pelan.
   “Masuk!.” Sahut bu Hartati tanpa menoleh.
Dila membuka pintu kemudian disusul oleh langkah kakinya mendekat kearah bu Hartati. Bu hartati menoleh sedikit kearah Dila. “eh Dila. Ada perlu apa?” tanyanya kemudian seraya melanjutkan menulis.

   “Bu, apa ibu sudah menemukan petunjuk tentang ibu kandung saya?.” Celetuk Dila tanpa basa-basi.

mso-effects-shadow-angleky: 0; mso-effects-shadow-color: black; mso-effects-shadow-dpidistance: 4.0pt; mso-effects-shadow-dpiradius: 4.331pt; mso-effects-shadow-pctsx: 100.0%; mso-effects-shadow-pctsy: 100.0%; mso-fareast-font-family: “Arial Unicode MS”; mso-style-textoutline-outlinestyle-align: center; mso-style-textoutline-outlinestyle-compound: simple; mso-style-textoutline-outlinestyle-dash: solid; mso-style-textoutline-outlinestyle-dpiwidth: .7pt; mso-style-textoutline-outlinestyle-join: miter; mso-style-textoutline-outlinestyle-linecap: flat; mso-style-textoutline-outlinestyle-pctmiterlimit: 0%; mso-style-textoutline-type: none;”>Bu Hartati yang sedari tadi menulis kini berhentti menulis lalu menatap Dila. Ini sudah kesekian kalinya yang ditanyakan oleh Dila disaat menjelang hari ibu. Didalam hati bu Hartati sudah ada jawaban sama seperti hari ibu ditahun sebelumnya, yaitu belum. Bu Hartati hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ia tahu pasti sangat berat baginya untuk hal ini kepada Dila. Mata Dila mulai berkaca-kaca. Perlahan air matanya menetes. Tatapannya kosong. Dila merasa sudah lelah dengan penantian ini. Bu Hartati bangkit dari kursinya setelah melihat Dila menitihkan air mata. Ia tak tega dengan Dila yang selalu menyimpan harapan kosong atas penantiannya selama ini.


   “Maafin ibu, Dila. Ibu tak tahu harus berbuat apa.” Ujarnya.

Dila semakin terisak. Ia ingin mengutarakan sesuatu tetapi mulutnya serasa terkunci karena terhalang oleh isak tangisnya yang semakin menggebu-gebu. Lalu Dila menghela nafas panjang untuk mencoba bicara.

   “Aku ingin seperti orang-orang, bu. Meraka punya ibu yang bisa menyayangi, mengasihi, dan memeluk mereka.” Ujar Dila masih terisak.

Dila menghela nafas lagi untuk bisa mengontrol emosinya.

   “Kamu pasti akan punya ibu, Dila. Ibu akan berusaha mencarikan ibu angkat yang mau mengadopsi kamu.” Ujar bu Hartati berusaha untuk menenangkan Dila.

   “NGGAK! Nggak ada yang bisa gantiin ibu kandungku, bu. Nggak ada.” Bentak Dila dengan lantang seraya berlari keluar.

   “DILA!” Teriak bu Hartati namun Dila tak menggubris.

Dibawah pohon manggalah tempat Dila bersandar seraya melampiaskan segala emosinya. Air matanya tak dapat dibendung lagi. Tujuh belas tahun sudah usianya. Namun Dila tak pernah merasakan belaian kasih sayang dari orang tua kandungnya sendiri. Selama itu pula Dila selalu menolak apabila ada seseorang yang ingin mengadopsinya. Ia merasa kalau ibu tiri itu tak sebaik ibu kandung dan tak ada pula yang bisa menggantikan ibu kandungnya. Ditengah derai air mata yang mengalir dipipi Dila, tiba-tiba ada yang menyodorkan tisu. “nih, hapus air mata kamu.” Ujarnya kemudian yang tak lain ia adalah Rivo.
Lalu ia duduk disamping Dila. Dila menyeka air matanya dengan tisu lalu melirik kearah Rivo. Seketika tangisan Dila berhenti. Ia tak mau menangis dihadapan Rivo.

   “Kenapa ya, Tuhan nggak kasih aku kesempatan buat ketemu sama ibu kandungku dan bisa merasakan kasih sayang darinya.?” Tanya dila dengan suara pelan.

Rivo menghela nafas panjang lalu menatap Dila. “Terkadang orang yang selama ini kita cari belum tentu selalu ada buat kita tetapi orang yang selalu ada didekat kita malah nggak kita cari, atau bahkan kasih sayangnya pun tak pernah kita sadari.” Ujar Rivo dengan bahasa puitis yang tentu tak dimengerti oleh Dila.
Dila mengernyit. “Maksud kamu?” Tanyanya kemudian.

   “Ntar juga kamu tahu maksud perkataanku tadi.” Jawab Rivo seraya bangkit dan berlalu dari Dila
Dila masih bingung dengan tingkah laku Rivo yang sebentar-sebentar ada sebentar-sebentar ngilang. Tak hanya satu atau dua kali saja Dila mendapati tingkah Rivo yang seperti itu. Namun hampir tiap hari Rivo seperti itu. Misterius dan realistis. Seringkali Rivo selalu melontarkan kata-kata misteri yang tak pernah dimengarti oleh Dila.
   Hari tlah berganti. Dan hari ini adalah hari ibu. Dila sangat mengharapkan kalau hari ibu kali ini akan menjadi hari ibu yang paling mengesankan baginya. Dila menunggu dan menunggu. Lama. Sangat lama. Ia hanya berdiam diri dibawah pohon mangga sambil memegang kado yang telah disiapkannya sesuai dengan perintah Rivo. Namun Dila seperti merasa bodoh. Untuk siapa kado ini diberikan sedangkan ibu kandungnya saja tak ada.? Fikirnya. Dila membanting kado itu ketanah. Dila merasa kesal karena ia merasa sudah dibohongi dan dikerjai oleh Rivo. Lama Dila menunggu namun Rivo tak kunjung menemuinya. Air mata Dila menetes mengiringi kekesalannya.

   “Kenapa kamu banting kadonya?” Tanya seseorang.
Dila mencari sumber suara itu dan ternyata sosok Rivo yang muncul secara tiba-tiba dihadapannya.

   “Kamu bohong, Riv. Kamu bilang aku bisa ngerayain hari ibu, tapi mana buktinya? Kamu fikir dengan berdiam diri membawa kado ibu aku bisa muncul tiba-tiba. Begitu?” Ujar Dila dengan suara lantang. 

   “Jadi kamu belum ngerti juga.” Ujar Rivo seraya memungut kado yang dibuang Dila lalu mengajak Dila kesuatu tempat.

Dila hanya mengikuti kemana ia akan dibawa oleh Rivo. Ia ingin tahu apa yang ingin ditunjukkan Rivo kepadanya. Lalu sampailah mereka ditaman dekat panti yang terdapat sebuah pondok kecil yang tampak nyaman. Dila dan Rivo mengintip dibalik jendela pondok itu. Mereka mendapati bu Hartati yang tengah mengajar anak-anak kecil belajar. Anak-anak kecil itu juga tinggal dipanti. Mereka diajarkan menulis, membaca, menyanyi dan masih banyak lagi layaknya anak TK ataupun PAUD. Dila menyaksikan sendiri bagaimana susahnya bu Hartati mengatur ana-anak yang bandel agar mau belajar. Dila teringat saat ia kecil dulu ia juga pernah bandel dan susah diatur. Namun bu Hartati tetap sabar dalam menghadapi anak yang bandel. Selain itu Dila juga menyaksikan bagaimana cara bu Hartati menenangkan anak yang sedang menangis ataupun berantem. Dila terenyuh menyaksikan ini semua. Ia menyadari betapa besar jasa bu Hartati selama ini.

   “Lihat, Dil. Kamu lihat sendiri kan. Dialah yang selama ini kita cari.” Ujar Rivo seraya menunjuk kearah bu Hartati.

   “Jadi ini maksud perkataan kamu kemaren, Riv?” Ujar Dila kembali terisak lagi.
Tanpa berpikir panjang lagi Dila langsung masuk kedalam lalu memeluk bu Hartati seraya terus terisak. Kemudian disusul oleh Rivo di belakangnya. Bu Hartati dibuat bingung oleh tingkah laku Dila.

   “Dila? Kamu kenapa?” Tanya bu Hartati.

   “Maafin aku, Bu. Harusnya aku sadar kalau selama ini ibulah yang menyayangi aku bukan ibu kandungku.” Ujar Dila dalam dekapan bu Hartati.

Senyum bu Hartati pun mengembang. Ia merasa lega mendengar ucapan manis dari mulut Dila. Ucapan yang membuatnya tersentuh. Ia pu mengelus punggung dan membelai rambut Dila layaknya seperti anak kandungnya sendiri. Kemudian Dila melepas dekapannya lalu meraih kado yang sudah disiapkannya tadi. Ia memberikannya kepada bu Hartati. “Selamat hari ibu, Bu.” Ujar Dila kemudian seraya tersenyum bahagia.
Bu Hartati menerima kado itu lalu membukanya. Kado itu berisi lukisan sketsa wajah seorang ibu yang diletakkan disebuah bingkai dengan figura retak akibat dibanting Dila tadi. Mata bu Hartati berbinar. Ia sangat terharu dengan yang dilakukan Dila kepadanya. Walaupun sketsa wajah itu sama sekali tidak mirip dengannya namun ia tetap menganggap bahwa ini adalah kado terindah yang diberikan anak untuk ibunya.

   “Tetaplah jadi ibu buat aku dan yang lain, Bu.” Ujar Dila lirih.

   “Terima kasih Dila. Ibu akan tetap jadi ibu buat kalian.” Ujar bu Hartati seraya memeluk Dila disertai anak-anak yang merapat untuk memeluk bu Hartati.


*END*