Contoh Cerpen Persahabatan : Spesial Hari Natal

Posted on

Contoh Cerpen Tentang Persahabatan



   Cerpen Spesial Hari Natal                                                                  


                 Judul :  NATAL DAN JOYA

                 Karya : Sara Yunita 


cerpen persahabatan


 NATAL dan JOYA

         Semenjak Joya dan keluarganya pindah ke Jakarta, Joya tak pernah lagi merayakan natal bersama dengan sahabat-sahabatnya terutama Bisma. Walaupun sebenarnya Bisma beragama islam, namun Bisma selalu menyempatkan diri untuk menemani Joya menghias pohon natal setiap hari natal tiba. Bertahun-tahun mereka sahabatan. Mereka tak pernah absen untuk menghias pohon natal dan bersenang-senang merayakan hari natal. Bahkan mereka sering bertukar kado di hari natal. Kado-kado terindah dari Bisma selalu disimpan baik-baik oleh Joya. Begitu pun sebaliknya, Bisma selalu menyimpan baik-baik kado pemberian dari Joya.
   Kini mereka beranjak dewasa. Usia remaja tepatnya. Sampai saat inilah Bisma dan Joya tak pernah bertemu. Rasa rindupun semakin terkuak di benak Bisma. Dari rasa rindu itulah timbul perasaan cinta dan sayang walaupun Bisma tak pernah ketemu Joya lagi. Ia hanya bisa berupaya untuk sekedar tahu bagaimana keadaan Joya di Jakarta dengan mengirim surat. Setiap hari Bisma selalu menunggu tukang pos berharap ada surat balasan dari Joya. Namun satu surat pun tak pernah ia terima. Padahal hampir setiap saat Bisma selalu mengirim surat untuk Joya. Kecewa yang dirasakan oleh Bisma. Pernah terfikir oleh Bisma untuk menyusul Joya ke Jakarta. Namun ia tak punya cukup nyali untuk merantau sendirian ke Jakarta. Ilham, teman dekat Bisma, mengerti apa yang dirasakan sahabatnya itu. Ia tak tega tiap kali mendapati Bisma yang seperti tak punya semangat untuk hidup. Sebuah ide yang nekad tiba-tiba muncul di pikiran Ilham.

   “daripada lo gini terus mending kita susul Joya aja ke Jakarta.” Celetuk Ilham saat menemui Bisma.

Bisma melotot ke arah Ilham. Ia terkejut mendengar penyataan dari Ilham yang benar-benar nekad.

   “kita? Emang lo mau nemenin gw ke Jakarta.” Tanya Bisma polos.

   “pake nanya
lagi. Ya iyalah kita kan sohib.” Ujar Ilham seraya merangkul Bisma.


   “thanks ya, sob. Lo emang sohib gw yang paling baek.” Puji Bisma.

   “alah lebay lo. Pokoknya besok lo siap-siap aja buat ketemu sama Joya. Gw juga kangen kok sama dia.” Ujar Ilham.

   “siip!!!.” Ujar Bisma seraya mengacungkan jempol.

Rasa senang dan berbunga-bunga menyelimuti hati Bisma saat ini. Natal tinggal seminggu lagi. Masih ada waktu bagi Bisma untuk ikut merayakan natal bersama Joya. Ia yakin natal kali ini akan akan berkesan buatnya dan Joya karena Bisma ingin mengutarakan isi hatinya kepada Joya bahwa ia sangat mencintai dan menyayangi Joya lebih dari seorang sahabat.
   Pagi pun menyapa. Bisma terbangun dari tidurnya dan bersiap diri untuk berangkat ke Jakarta bersama Ilham. Lalu Bisma pamit kepada orang tuanya. Selang beberapa waktu Ilham pun datang menemui Bisma. Mereka berangkat menggunakan mobil pribadi yang dipinjam Ilham dari pamannya. Mereka on the way menuju alamat yang dituju. Di hati Bisma ada sedikit perasaan cemas. Batinnya bertanya-tanya apakah Joya masih mengenalinya setelah lima tahun tidak pernah bertemu. Dan selama itulah mereka tak pernah merayakan natal bersama.
   Mobil hitam itu terparkir di depan gerbang sebuah rumah mewah. Bisma membuka jendela mobil lalu menyamakan alamat yang dibawanya dengan alamat rumah yang ada di hadapannya. Mereka pun turun dari mobil.

   “lo yakin ini rumahnya?” Tanya Ilham.

   “yakinlah. Lihat nih alamatnya sama, kan.” Jawab Bisma seraya menunjukkan alamatnya ke Ilham.

Ilham mengangguk-angguk. Tak lama kemudian datanglah tukang kebun menghampiri meraka.
   “ada yang bisa saya bantu, mas.?” Tanyanya kemudian.

   “oh, iya pak. Benar ini rumahnya Joya?” Tanya Bisma.

   “iya benar. Ada perlu apa ya?” Tanya tukang kebun itu lagi.

   Bisma pun merasa lega. Akhirnya penantiannya selama ini akan berakhir. Dan ia akan segera bertemu dengan Joya.
   “kami mau ketemu sama Joya, bisa pak.?” Ujar Bisma.

   “iya, pak. Kami datang dari jauh.” Ujar Ilham yang sedari tadi diam.

Tukang kebun itu tertunduk lesuh seperti ada yang disembunyikannya. Ia terlihat sangat gugup dan cemas. Bisma dan Ilham saling menatap. Mereka menunggu jawaban dari pak tukang kebun.

   “non Joya sedang dirawat dirumah sakit, mas. Sudah sebulan non Joya sakit-sakitan.” Jawab tukang kebun itu gugup.

Sontak Bisma tersentak mendengar hal ini. Begitu pula dengan Ilham. “ Joya sakit? Dia sakit apa, pak.?” Tanya Bisma cemas.

   “leukimia, mas. Dan katanya umurnya sudah tidak lama lagi.” Jawab pak tukang kebun.

Bisma sangat terpukul mendengar kenyataan ini. Batinnya terasa teriris-iris. Ternyata bertemu dan menghabiskan waktu natal bersama Joya tak semudah yang ia bayangkan selama ini. Ia tak menyangka akan kehilangan orang yang dicintainya. Dalam hati Bisma berharap bahwa Ia sekarang tengah tertidur dan yang ia alami saat ini hanyalah mimpi buruk dan ketika ia bangun nanti semua akan baik-baik saja, termasuk keadaan Joya.

   “boleh kasih tahu alamat rumah sakitnya, pak.” Ujar Bisma.

Lalu tukang kebun itu mengambil secarik kertas dan menuliskan alamat rumah sakit tempat dimana Joya di opnam. Tanpa berpikir panjang Bisma dan Ilham bergegas menuju TKP. Mobil yang dikendarai oleh Ilham itu melaju dengan cepat. Bahkan hampir mendekati kecepatan maksimal. Tampak raut wajah Bisma yang sangat gelisah. Ilham berusaha menenangkan Bisma dengan menepuk-nepuk pundak Bisma.
   Mobil hitam itu terparkir di halaman rumah sakit yang dituju. Lalu mereka turun dan berjalan menuju lobby dengan tergesa-gesa. Setelah mencari tahu ruang dimana Joya dirawat, Bisma dan Ilham segera kesana. Rasa panik kembali terbesit di hati Bisma. Akankah masih ada waktu untuknya bisa bertemu dengan orang yang dicintainya
   Bisma berdiri di depan pintu ruang rawat inap Joya. Bisma menghela nafas panjang dan perlahan ia membuka pintu kemudian di susul oleh Ilham. Bisma sangat terkejut mendapati tubuh lemas seorang wanita cantik yang terbaring di ranjang. Yap!. Wanita cantik itu adalah Joya. Dia dalam keadaan tertidur pulas. Tubuhnya sangat ringkih. Air mata Bisma sudah tak dapat dibendung lagi. Ia tak sanggup dengan kenyataan ini. Ketika Bisma hendak mendekati Joya tiba-tiba muncul seorang wanita paruh baya dari toilet yang tak lain adalah mama Joya. Sontak mama Joya pun terkejut melihat kedatangan Bisma dan Ilham yang ternyata mama Joya masih mengingat mereka.

  “mau apa kalian kesini? Sebaiknya kalian pulang saja.” Ujarnya dengan suara pelan.

   “tapi tante, saya Cuma mau lihat keadaannya Joya.” Ujar Bisma bersih keras.

   “nggak bisa. Cepat kalian pergi dan jangan kesini lagi.” Ujar mama Joya seraya mendorong mereka keluar lalu menutup pintu dan menguncinya.

Bisma terus bersih keras dan memaksa untuk masuk dengan menggedor-gedor pintu. Hal ini tentu menjadi keributan dirumah sakit. Orang-orang yang lewat memusatkan perhatiannya kepada Bisma. Ilham mencoba untuk menenangkan Bisma sebelum ada satpam dan mereka akan diusir.

   “udah Bis, udah. Nanti Joya bangun. Apa lo nggak kasihan sama dia.” Ujar Ilham.

   “nggak, Ham. Kita jauh-jauh datang kesini bukan untuk diusir. Tapi untuk ketemu Joya.” Ujar Bisma.

   “iya, gw ngerti Bis. Dari dulu mamanya Joya emang nggak pernah suka sama lo.” Celetuk Ilham.

Ia terpaksa berkata demikian agar Bisma bisa sadar dan berhenti untuk bertindak gegabah di rumah sakit. “besok kita coba kesini lagi siapa tahu mamanya Joya berubah pikiran.” Sambungnya.
Bisma tertunduk. Ia menyadari juga memang benar apa yang dikatakan Ilham. Dari dulu mama Joya tak pernah menginginkan anaknya dekat dengan pemuda biasa-biasa saja seperti Bisma. Ditambah lagi Bisma tak seagama dengan keluarga Joya. Mungkin itulah yang menjadi alasan mengapa sampai sekarang mama Joya tak pernah suka dengan Bisma.
   Natal tinggal sehari lagi. Bisma dan Ilham masih di Jakarta. Kebetulan Ilham mempunyai saudara disana sehingga mereka menginap untuk beberapa hari. Dalam waktu singkat ini Bisma harus bisa bertemu dengan Joya walau tiap kali kesempatan Bisma bolak-balik ke rumah sakit untuk membesuk Joya namun tetap saja tak mendapat izin dari mama Joya hal ini tak pernah diketahui Joya karena seringkali Joya tertidur pulas disaat Bisma datang membesuknya. Bisma sangat ingin merayakan natal bersama Joya. Mungkin untuk yang terakhir kalinya.
   Esoknya, Bisma dan Ilham kembali untuk membesuk Joya di rumah sakit. Dan hari ini tepat dihari natal. Bisma berharap ada keajaiban natal yang datang untuk kesembuhan Joya atau hanya untuk bertemu dengannya di akhir hayat joya.
   Sementara itu mama Joya selalu menemani anaknya dirumah sakit. Ia hanya memberikan seluruh waktunya untuk anaknya. Seperti saat ini, mama Joya tengah menyuapi anaknya untuk makan. Wajah Joya benar-benar pucat pasih. Matanya sayu. Usianya pun sudah diujung tanduk. Ia tak pernah mau jika disuapi untuk makan.

   “buat apa Joya makan, ma. Nantinya juga Joya akan mati.” Lirih Joya disertai air mata.

   “kamu jangan bicara begitu, sayang. Percayalah sama kejaiban natal. Kamu pasti sembuh.” Ujar mama Joya seraya membelai rambut anaknya yang kaku.

   “aku Cuma pengen ketemu Bisma, ma di sisa hidup Joya. Dia selalu nemenin Joya buat ngerayain natal.” Ujar Joya semakin terisak.

Mama joya hanya bisa diam. Ia merasa menyesal telah memperlakukan Bisma dengan buruk selama ini. Yap! Semua surat yang dikirim Bisma untuk Joya selama ini disimpan oleh mama Joya tanpa sepengetahuan anaknya sehingga seolah-olah Bisma sudah melupakan semua tentang Joya Bahkan ia pun menyesal telah mengusir Bisma berkali-kali dari rumah sakit. Ia berharap Bisma masih di Jakarta dan mau membesuk Joya lagi .
   Ternyata batin Joya sudah merasakan kehadiran Bisma. Yap! ternyata bersamaan dengan itu Bisma dan Ilham tengah berjalan menuju ruang rawat Joya. Dan kali ini Joya dalam keadaan terbangun.

KREKK!!!
Pintu ruang rawat Joya terbuka. Dan ternyata Bisma dan Ilham yang ada dihadapan Joya. Mereka pun saling menatap. Lama. Sangat lama.

   “Bisma.” Sahut Joya seraya berkaca-kaca.

   “Joya.” Sahut Bisma dan langsung mendekat ke Joya tanpa berpikir panjang lagi.

Mereka pun melepas rindu dengan sebuah pelukan. Ilham yang berdiri di belakang Bisma turut senang dengan pertemuan ini. Mama Joya yang biasanya mengusir Bisma kini diam terpaku. Tentu ia merasa senang dengan kedatangan Bisma. Ia tak pernah melihat anaknya sebahagia ini semenjak anaknya sakit.

   “kenapa kamu nggak pernah bales surat dari aku, Joya?” Tanya Bisma seraya melepas pelukannya.

   “surat? Tapi aku nggak pernah terima surat dari kamu, Bis. Aku pikir kamu udah ngelupain aku.” Lirih Joya.

   “Joya, maafin mama sayang. Selama ini mama yang udah ngumpetin surat dari Bisma.” Timpal mama Joya seraya menitihkan air mata.

   “kenapa mama tega ngelakuin ini, ma. Bisma salah apa?.” Ujar Joya sambil terisak.
   “mama minta maaf, Joya. Mama menyesal.” Ujar mama Joya seraya memeluk anaknya.
Ia juga meminta maaf kepada Bisma karena telah berbuat jahat kepadanya. Bisma pun sudah memaafkan mama Joya. Bagi Bisma yang terpenting adalah ia bersyukur karena do’anya yang ingin bertemu dengan Joya sudah terkabul tepat dihari natal. Namun ini belum cukup baginya. Tak ada yang terpenting saat ini kecuali kesembuhan untuk Joya.

   “Joya, selamat natal ya.” Ujar Bisma seraya menyodorkan sebuah miniatur pohon natal. “kita hias pohon natal ini sama-sama ya.” Sambungnya seraya menunjukkan lampu-lampu hiasan natal yang terangkai menjadi satu kesatuan yang juga berukuran mini.

Joya sangat terkejut sekaligus senang karena bisa merayakan natal terakhirnya bersama Bisma. lalu mereka pun menghias pohon natal itu menjadi pohon natal yang sangat cantik.
   “makasih ya, Bis. Aku sayang sama kamu.” Desah joya.

   “aku juga sayang sama kamu Joya.” Ujar Bisma seraya tersenyum.
Ilham turut bahagia melihat sahabatnya yang kini terbayar sudah semua penantian sahabatnya itu. Begitu juga dengan mama Joya yang sangat bahagia melihat anaknya bahagia bersama Bisma.

Tiba-tiba saja Joya merasakan sakit yang luar biasa hebat. Penyakit yang dideritanya menyerang hebat. Mama Joya segera memanggil dokter. Semua orang panik dan cemas melihat Joya kesakitan. Dokter menyuruh mereka untuk menunggu di luar.
Selang beberapa waktu dokter pun keluar. Ia tertunduk lesuh.

   “dokter, bagaimana keadaan anak saya, dok.?”Tanya mama Joya panik.

Begitu pula dengan Bisma dan Ilham. Mereka sangat panik dan menunggu jawaban dari dokter. Pak dokter itu hanya menggelengkan kepala seraya berkata, “maaf, bu. Anak ibu sudah menemui ajalnya.”
Isak tangis mama Joya pun semakin menjadi-jadi setelah melihat jasad anaknya yang terbujur kaku dan dingin. Begitu juga dengan Bisma, ia sangat terpukul dengan kenyataan ini. Batinnya menjerit. Tak sanggup yang dirasakan Bisma harus kehilangan orang yang dicintainya.
   Satu hari berlalu. Disanalah terbaring jasad yang tertimbun tanah dengan batu nisan bertuliskan nama Joya. Bisma berusaha ikhlas untuk melepas kepergian Joya untuk selama-lamanya. Didekat batu nisan itu ditaruhnya miniature pohon natal terakhir yang pernah mereka hias bersama.

   “selamat jalan, sayang.” Ujar Bisma singkat.

*END*

Demikian sedikit Ilmu Bahasa Indonesia yang sederhana tentang Contoh Cerpen Persahabatan : Spesial Hari Natal
Semoga Bermanfaat bagi Pelajar di seluruh Indonesia..
Jangan Lupa Bagikan Artikel ini ke Facebook , Twitter , Google+ dan Sosial Media Lainnya
Terima kasih dan BERKEMBANGLAH TERUS PELAJAR INDONESIA ! ^_^